Di sisi yang lain, gegap-gempita data-driven dalam pengambilan keputusan bisnis ramai mengisi berbagai artikel dan berita. Boleh jadi Anda mengenalinya sebagai Big Data, Data Science, Data Insight dan sebutan sejenisnya.

Lalu benarkah kalau proses bisnis (yang otomatis juga berarti product development) harus driven by data?

Untuk menjawabnya, saya terlebih dulu mengajukan penyerderhanaan pemahaman bahwa proses product development terdiri dari dua fase:

  • Strategic
  • Tactical

Pada fase strategic, kita berusaha menyusun konsep, merangkai pemahaman holistic/menyeluruh, dan ini bersifat sebagai pondasi dasar untuk fase selanjutnya (tactical phase). Seringkali fase ini dipakai ketika kita menginisialisasi suatu bisnis, produk, service/layanan, dan atau suatu fitur baru. Pada tahapan ini kita harus membuka lebar-lebar semua pintu-pintu kemungkinan dan peluang dengan Opportunity Mindset.

Apakah pada fase ini, dalam mengambil keputusan strategis ini kita perlu data-driven? saya lebih suka menyebutnya sebagai “Kilasan Informasi/Pengetahuan/Pengalaman”. Malcolm Gladwell menyebutnya sebagai “thin-slicing” dalam bukunya Blink. Tumpukan informasi, pengetahuan, pengalaman hingga “gut feeling” terangkai dengan “somehow” begitu sistematis dan otomatis. Ini adalah induk roadmap yang akan di-derivatif-kan menjadi tactical di ranah eksekusi. Karena selama proses melakukan sintesis strategis ini terhadap hal-hal holistic, maka seringkali informasi (baca: data) yang dibutuhkan lebih bersifat penguatan atas idea/intuisi yang menjadi cikal-bakal proses strategis ini. Bahkan untuk suatu idea/intuisi yang benar-benar baru, kebutuhan akan data pendukung begitu minimal atau bahkan tidak diperlukan sama sekali, seperti yang pernah dilakukan Steve Jobs ketika mengambil keputusan strategis meluncurkan Apple Macintosh. Data-driven yang terlalu dini, bisa saja menjadi bumerang, membuat data yang diajukan menjadi multi interprestasi dan strategic result yang dihasilkan menjadi bias.

Nah, seperti yang mungkin telah Anda duga, data-driven menjadi begitu krusial ketika memasuki fase tactical. Di tahapan ini, kita mulai memasuki area teknis, detailing, pragmatis (menyesuaikan resource, biaya, timeline dan seterusnya, namun tidak pula berarti kemudian kita melakukan shifting ke Constrain Mindset), penyesuaian antara harapan ketika keputusan strategis yang mendasarinya dengaan kenyataan di lapangan. Penyesuan terhadap konteks yang ada dan atau konteks yang kemudian terbentuk. Mulai dari tanggapan/feedback dari customer, perubahan lanscape pasar karena masuknya produk kita dalam arena kompetisi dan seterusnya. Dan yang lebih penting dari itu semua, bersama dengan hadirnya produk kita, maka interaksi antara partner bisnis kita dan juga customer/user kita terjadi. Maka data akan otomatis ter-generate. Ini adalah tambang emas untuk mulai melakukan proses analitis. Bukan saja dalam rangka memperbaiki produk kita tadi, namun membuka peluang untuk produk dan atau layanan baru. Tentu saja ini berpeluang berkontribusi menambah lapisan informasi/pengetahuan/pengalaman untuk fase strategis berikutnya.

Dan jika Anda familiar dengan The Lean Startup Process – Diagram, maka pembahasan di atas kalau di-inline-kan menjadi seperti berikut ini: